Pernah membayangkan bentuk fisik dari sifat berani ga? Ga perlu repot cari ke terminal bus Rambutan atau ke dalam pasar tempat ngumpul para centeng dan preman, nampaknya banyak yang dengan mudah ditangkap seliweran di depan mata kita sehari-hari. Ayo kita sebut aja deh yang paling simple mulai dari nyelametin kucing tetangga, ngejar-ngejar maling jemuran, sampai bantuin ibu kita masak butuh keberanian juga lho!, gimana ga butuh keberanian bisa-bisa kelaperan satu isi rumah kalo ga ada yang mau makan soal masakan tak sedap (sambil pamer pernah kuliah bidang kuliner). Kadang terlintas juga "apa bener itu yang namanya berani?", berani bertindak secara fisik atau kalau dibutuhkan main kasar juga ga masalah.
Bisa dibilang dulu aku termasuk anak kecil yang berani atau bisa disebut bodoh dengan sikap ugal-ugalan yang sebagian dari teman sebaya tidak akan berbuat demikian. Mau tahu apa saja kegiatan ku waktu itu? ketik REG spasi LAMPAU sekarang juga, coba ku ingat beberapa cerita yang menyenangkan.
Taman Kanak Kanak:
Sebenarnya bagian ini bukan salah satu bagian favoritku sih, lebih banyak adegan memalukannya ketimbang berani. Hari pertama masuk sekolah saja sudah bisa membuatku mengeluarkan keringat sebesar biji kuaci. Apa sebabnya, walaupun sebagian masih berumur 4 atau 5 tahun tapi karakter para penghuni nol kecil TK Nurjamillah Kranji memiliki ciri khas yang kuat lho, yang terkadang campur aduk sifat mereka membuatku takut.
Anak lelaki pertama yang berkenalan denganku contohnya, Topan nama bocah itu. Sebenarnya dia bermuka manis namun sedikit masam untuk anak seusianya. Alis matanya turun menandakan rasa waspada tingkat tinggi, rahangnya kadang mengeras jika melihat anak perempuan teriak-teriak kegirangan. Wah, bahaya juga pikirku kalau terlalu dekat dia, bisa-bisa aku kena jitak buat pelampiasan karena ambisinya kandas untuk menjadi ksatria baja hitam. Seminggu kemudian ada acara peringatan hari Kartini di TK tercinta dan otomatis semua berlomba memakai seragam favorit, sebisa mungkin pakai baju adat paling beda lah ketimbang sekedar memakai kebaya atau beskap. Singkatnya aku memutuskan memakai busana adat sunda, ha..ha..ha..ha..! lalu di mana letak bedanya dong? ibuku lah orang yang bertanggung jawab penuh sebagai fashion stylish event tahunan tersebut dan aku punya mulut akhirnya cuma bisa monyong se-monyong-monyongnya. Acara ini itu, lenggok sana lenggok sini, blah..blah..blah..hingga tibalah jeda waktu untuk istirahat makan siang. Sialnya kali ini aku harus duduk satu meja dengan Topan si Muka Masam, duh!.
Bener kan seperti dugaan, di tengah acara makan tiba-tiba terdengar suara "Cruussssss", Topan menusuk hidung salah satu anak lelaki dengan pensil. Meributkan tentang apa aku juga kurang memperhatikan, intinya sih sekarang darah anak itu mulai berceceran di atas meja, piring, sampe muka Topan sendiri. Alhasil Topan kena gusur dari arena lomba, ibunya sudah siap sedia membawa pulang lengkap pasang tampang supir angkot kejar setoran. Tapi bagian tak terlupakan lainnya ketika suatu hari aku memutuskan untuk buang air besar di tengah bisingnya jerit bocah ingusan dalam kelas. Oke, oke, tertawalah sepuas kalian, yang jelas service berikutnya jatuh di tangan ibu guru paling cantik. Membersihkan sampai meminjamkan celana anak ibu guru itu yang kebetulan letak rumahnya di belakang TK. Dasar anak tak tahu diri.
Ada satu hal yang bisa kutarik bersama Topan si Muka Masam. Aku ingat di awal duduk satu meja bersama Topan, sempat terlintas di pikiran kalau nantinya pasti akan ada apa-apa di meja kami dan alhasil "Cruussss!", it happened.
Imajinasi itu gratis
Berani berpikir harus siap menerima buah dari pikiran itu sendiri. Tak sedikit kaum yang menolak hal itu se-mentah jelantah, coba perhatikan sebentar saja karena harus diakui bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan bukan apa yang kita inginkan. Ini bukan kelas "How to Motivated Yourself" atau "Wealth & Health under 30's" melainkan memikirkan dirimu secara pantas juga layak. Pantas untuk disandingkan dengan semua impian yang sedang kita kejar, perjuangkan, sekaligus menghargai diri sendiri di waktu sekarang, waktu nyata yang sedang kita jalani. Berbicara seperti ini selalu mudah dibanding, misalnya, saat awan hitam bergerak runtuh menuju arah kita. Membenahi pikiran yang semerawut bisa jadi pintu pertama yang harus kuhadapi sekarang, tapi beruntung aku sudah mempunyai gunting untuk memecah tumpang tindih tersebut yang walaupun masih tumpul tapi tidak lupa di asah setiap hari.
Otak dalam benak sering teriak "Berimajinasi lah", dan tubuh pun mengiyakan karena pikirku kenapa tidak?! toh berimajinasi sekaligus berpikir itu free alias gratis. Kalau yang gratis saja tidak bisa kita lakukan apalagi yang di suruh bayar, habislah kau. Akhir-akhir ini sering juga terdengar ucapan "bisa karena biasa, biasa karena dipaksa". So let's push ourselves without feeling forced.

0 komentar:
Posting Komentar