Senin, 14 Juni 2010

Beranjak dewasa, mungkin itu yang tengah kualami beberapa hari belakangan ini, hampir semua manusia yang ku kenal telah mengalaminya dan juga menolaknya. Sebuah pertanyaan pribadi dari apa yang telah Penciptaku berikan di hari-hari penuh dengan kesulitan. Hoam..enough talkin' shit, just do it. Masih terjebak dengan kebiasaan lama, tulisan ini udah ada di folder C: My Document  rumah dari kapan tau tapi sudahlah..yang penting usaha.

Lintas kereta, lintas kasta

Aku melakukan perjalanan ke daerah barat beberapa waktu yang lalu bersama seorang kawan, bekerja, serabutan tepatnya. Bekerja pada sekelompok orang-orang beradab yang mengenyam pendidikan tinggi tapi tidak tahu apa-apa mengenai cara bersosial yang manusiawi dengan sesama (terutama dalam urusan harga). Beberapa kali kami berdua menjejakkan kaki di markas mereka, aku ditemani oleh seorang karib lama yang juga mengerjakan “proyek” mikro ini. Mereka mungkin juga tak peduli asalkan hasrat mereka terpuaskan dengan cepat, dan kami pun tak masalah asal semua terbayarkan menurut tenggat.

another spot for video profile, pantai dadap Tangerang

Akhirnya kami harus bolak balik Jakarta-Bekasi-Tangerang selama pekerjaan berlangsung. Perjalanan kami kadang menggunakan sepeda motor, angkutan umum maupun kereta listrik kebangaan warga ibukota. Ada satu perjalanan menarik sepulang dari sana. Aku menaiki kereta rakyat "kelas kambing" dengan gerbong berkarat lengkap dengan hujan deras,
atap gerbong yang bocor, pengamen urakan, sampai melebur bersama binatang ternak. Aku jenuh dengan pemandangan itu, aku sudah sering melihat bahkan merasakan, jadi teringat masa-masa mudik dari Jogja saat kuliah dimana aku sering kali menaiki kelas ekonomi “Kereta Siluman” Progo. Ga jauh beda lah sama kereta yang aku naiki kali ini, bedanya... dulu setelah turun di stasiun Jogja aku merasa di rumah tapi kali ini aku merasa dijajah. Aku coba buang muka ke luar jendela berharap mendapat sesuatu yang lebih menarik dari itu semua, lima menit, sepuluh, dua puluh, lupakanlah! lagipula stasiun tujuanku sudah di depan mata. Pandanganku menyapu semua pojok stasiun yang lumayan besar ini, namanya stasiun ‘dekat kota’, ini jelas karanganku yang tak menahu geografis stasiun kereta DKI karena pada kenyataannya aku lebih suka menari di atas motor menghindari mobil dan asap jahat.

Setelah sebentar ke toilet dan menunggu kira-kira 15 menit, keretaku telah tiba. Kali ini aku mencoba kelas ekonomi dengan servis tambahan penyejuk ruangan, istirahat pikirku, tapi tidak akan terjadi jika melihat apa saja yang ada selama perjalanan menuju stasiun Bekasi. Tipikal kehidupan metropolitan, banyak mahluk jadi-jadian di sepanjang rel dekil ini, rumah reot yang kapan saja bisa ambruk bercokol gagah beberapa meter dari roda kereta, anak-anak ingusan yang berani melempar batu ke arah kami secara membabi buta, perempuan kampung yang genit, mungkin jika diberi sedikit kesempatan mereka bisa menyombongkan kelebihannya karena pada dasarnya mereka tidaklah seburuk itu, yah ibarat Cinderella deh. Tidak lupa pedagang minuman yang menyediakan kopi, minuman energi dan lainnya yang dimana letak lapaknya sangat dekat dengan rel, kupikir sekitar 5 meter jarak kedua spesies beda jenis ini setiap hari bertemu. Sungguh gila, mereka pasti sudah memikirkan secara matang jarak aman mendirikan warung pinggir rel dan mungkin saja telah terjadi eksperimen ekstrim sebelumnya untuk sekedar mengukur management risk dan kalau boleh mengambil contoh saat kita menaiki angkutan umum di kala SMU bergelantungan bersama teman. Kita secara tidak sadar sangat lihai menghindari pengendara lain di jalan jikalau hampir mengenai badan kita, bisa menarik punggung ke dalam, mengangkat sedikit kaki atau memasukkan seluruh badan. Entah mengapa insting aerodinamis kita begitu saja keluar tiba-tiba jika ada bahaya mengancam. Pak... pak... niat sekali dirimu, salut. Di tengah perjalanan tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah tembok bata besar hitam bertuliskan Santiago Bernabeau dengan cat putih. Kejadiannya sedikit sentimentil, bayangan tembok itu sedikit terkena cahaya matahari sore sehabis hujan. "Bagus juga", tak sadar bergumam, ketimbang bangunan lainnya di sana ditambah kereta sedang berjalan melambat membuat aku lebih leluasa mengamati. Di bawah tembok besar tersebut ada sejumlah anak sedang berlarian mengejar sebuah bola putih plastik, tertawa, cuma itu yang mereka lakukan sepanjang berlari atau menendang ke arah gawang. Terkadang mereka saling mendorong tubuh masing-masing sambil melontarkan kalimat yang tak bisa kudengar atau ejekan seorang sahabat mungkin. Stadion imitasi tersebut mengingatkanku akan tim kesayangan yang berada nun jauh di negeri orang sana, negeri di mana wanitanya mempunyai daya tarik yang tak mungkin kau hindari. Tim raksasa yang tengah terseok seperti Cyclop di tangan David, bagaimanapun juga aku masih tergila-gila oleh mereka. Madrid dan Spanyol mustahil di pisahkan, sama saja kau mencoba mengakhiri perang di jalur gaza,kawan!

Diluar itu, sisa perjalanan sore itu berjalan biasa saja. Setidaknya aku mendapatkan sebuah 'hiburan' di tengah tumpah ruah penderitaan yang sudah bosan kulihat, sebuah keharusan janggal bernama status, prestis dan peng-AKU-an.

Jakarta, Oktober 2009

0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright 2010 Pecandu Madu.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.